PROVOKATOR vs APATIS

By Nela Navida - September 15, 2010

Meruaknya berita tentang konflik Indonesia-Malaysia awal September kemarin menyisakan sebuah cerita tentang seorang tokoh provokator. Tak lain provokator seluruh warga negri untuk ikut dalam senandung luapan emosi tragedi terombang-ambingnya persahabatan antar kedua negara ini.

“Tak kau taukah bahwa Malaysia telah menginjak-injak harkat martabat negara kita, bung !!!?” begitu gemelegarnya suaranya menyatakan sebuah pernyataan ini kepadaku saat di kereta, aku tak begitu mengenalnya, bahkan lebih bisa dibilang kalau aku sama sekali tak mengenalnya.

“Seharusnya Presiden sedikit tegas, alaaah memang Presiden kita cemen, perang aja kenapa sih ya, bung!!!?” lagi-lagi dia meneriakkan tepat di telingaku, ahh aku pusing.. Ku alihkan saja telingaku ke arah jendela, aku sedang malas mendengar celotehan masalah negara, politik yang tiada henti-hentinya memunculkan konflik, yaah hampir sama dengan sinetron-sinetron macam kini, entah terkontaminasi atau apapun, aku tak ingin peduli.

“Bung, kemarin ditemukan blogger Malaysia mengganti lirik Lagu Kebangsaan kita, begitu bengisnya mereka tak henti-hentinya mengajak ribut !!!?” aku hanya mengangguk-angguk sambil meminum seteguk demi seteguk kopi yang kubeli di kedai dekat stasiun tadi. Di situ aku mendengar hal yang sama dengan si dia yang di sebelahku, mungkin mereka satu spesies. Oh sungguh, tak adakah topik lain yang bisa menenangkan jiwa,hidupku bukan hanya untuk ribut masalah politik. Budaya Politik yang tumbuh pesat di negaraku ini seakan mengenerelasikan semuanya untuk berfikir tentang politik. Pendidikan kini disangkutkan dengan politik, ekonomi disangkutkan dengan politik, entertainment pun masih politik, sampai seakan partisipan politik jaman sekarang menjadi artis dadakan, coba lihat di layar kaca para wakil rakyat yang disebelah situ. Oke, cukup aku tak mau banyak mengkritik.

“3 petugas KKP ditangkap pihak Malaysia dan diperlakukan sebagai tahanan, coba lihat ini Bung begitu menantangnya sikap mereka terhadap kita, mereka yang pencuri kita yang diperlakukan pencuri!!!!?” cukup-cukup sudahlah, aku anggap ini biasa saja, hanya salah paham. Tak bisakah masalah ini dibicarakan baik-baik? Tak usah kau menyulut api agar kami yang disini ikut kepanasan dan akan terbakar. Bum ! Makan saja apimu itu.

“Mentri Perhubungan Luar Negri memberikan suatu pernyataan yang berbeda dengan ketiga petugas KKP yang tertangkap, dengar ini kan Bung, mentri ini malah membela Malaysia itu!”

“Kemarin budaya kita yang dicuri, Pulau kita pun ikut dicuri, hari ini Kedaulatan! Kami siap perang, Bung!!!?”

Lucu benar-benar lucu, kalau telingaku disuguhi dengan panganan yang terus menerus menekakkan telinga ini bisa-bisa hidungku lepas entah kemana, mataku juling tak tau arah. Aku muak dengan kata perang, manusia macam apa inginkan perang. Tidakkah lebih menyenangkan bermain PS, mendengarkan ipod, menikmati gaji bulananku liburan menikmati keindahan sunrise, ahh sudahlah daripada ikut memikirkan politik yang menyuramkan dunia, lebih baik kumatikan saja si Provokator kurang kerjaan ini. Yah kurasa ini lebih baik.. Ku posisikan kembali dalam dudukku.

“Hei, kau ! Kenapa kau matikan televisinya ! Ini berita sedang penting, tak kau pedulikah pada Negaramu !”hanya kujawab dalam batinku, aaahhh sial, dasar manusia korban Provokator !

( 15 September 2010 22.32)

  • Share:

You Might Also Like

0 comments